Sabtu, 05 Agustus 2017

Sudah siapkah anda ke luar negeri?


Banyak dari kita mempunyai keinginan untuk ke luar negri. Hal ini didukung dengan mudahnya teknologi informasi dan transportasi disertai dorongan untuk mendapatkan pengalaman dan kawan baru. Tentu kita mempunyai tujuan masing-masing yang akan berbanding lurus dengan manfaat yang kita dapat. Mental kita akan diuji dengan tuntutan untuk bisa mandiri karena jauhnya teman-teman dan keluarga kita di Indonesia. Kemampuan bahasa asing pun bisa ditingkatkan lebih mudah karena mau tidak mau harus menggunakannya untuk berkomunikasi dengan warga setempat di kehidupan sehari-hari. Di samping itu, budaya yang relatif baru akan membuat pikiran kita lebih terbuka dan lebih bisa menerima perbedaan.
Namun, di balik semua itu, ada risiko yang sebetulnya harus kita antisipasi.
Sebagai seorang muslim, aqidah, iman, dan akhlaq tentu merupakan salah satu pertimbangan yang sangat perlu diperhatikan, terutama jika tujuan kita bukanlah negri yang mayoritas muslim. . Rasulullah sudah menyatakan berlepas diri dari orang-orang yang tinggal di negri kafir [1], kecuali orang-orang yang memang punya udzur atau keperluan yang diperbolehkan, seperti berdakwah, menuntut ilmu yang ilmunya tidak dapat ditemukan di negri muslim, berdagang dan lain-lain. Syarat dan udzur adalah lingkup pembahasan tersendiri. Ada tulisan beberapa Ulama’ yang cukup bagus tentang uraian syarat bepergian ke negeri kafir, di antaranya adalah [2],[3]. Pendapat para ulama’ yang mungkin relatif ‘kaku’ tersebut sebetulnya cukup beralasan karena lingkungan bisa mengubah kita tanpa sadar. Sebagai contoh, dari teman-teman penulis yang ke luar negri, orang yang menjadi tidak islami lebih banyak daripada yang bertambah sholeh. Salah satunya adalah satu akhwat yang bekerja di Eropa dan pacaran dengan orang sana. Jilbab yang dulu dia kenakan dia lepas. Larangan untuk mengambil seorang non-muslim sebagai suami pun dia langgar dengan mudah. Risiko lain yang dipertaruhkan adalah rasa keterikatan terhadap Indonesia.
Rasa ingin berkontribusi ini cukup mempunyai nilai karena beberapa alasan. Satu hal adalah perintah Rasulullah untuk taat kepada ulil amri yang dalam konteks ini adalah penguasa [4]. Ulil Amri bisa diartikan sebagai penguasa, ulama, shahabat Rasulullah , dan yang mengkhususkan pada Abu Bakr dan Umar [5]. Hal lain adalah tentang perintah Rasulullah untuk bermanfaat kepada manusia agar menjadi sebaik-baik manusia [6]. Jika kita berkontribusi pada Indonesia berarti kita akan memberikan manfaat bagi orang sebanyak kurang lebih seperempat milyar jiwa. Terlebih lagi, mayoritas masyarakat di Indonesia adalah muslim yang notabene adalah saudara seaqidah kita. Hal ini tentu saja mengandung keutamaan-keutamaan tersendiri [7].
Ketika kita pergi ke manca negara, rasa keterikatan ini bisa menjadi semakin kuat atau lemah. Fenomena culture shock adalah faktor utama yang membuat kita berubah. Pada umumnya, culture shock terbagi menjadi empat (4) tahap, yaitu tahap euforia/kegembiraan (‘the honeymoon’), terganggu (‘culture shock’), masa penyesuaian, dan masa setelah adaptasi (‘biculturalism’) [8]. Pada tahap pertama, rasa takjub akan mendominasi dan motivasi belajar budaya baru tersebut akan meledak-ledak. Tahap selanjutnya,  euforia berganti dengan rasa kangen akan rumah dan perbedaan-perbedaan antara adat kita dan negeri yang didatangi yang bisa jadi diikuti oleh rasa stress yang muncul. Lama kelamaan, pemahaman akan budaya dan nilai negeri yang didatangi akan semakin meningkat dan merasa bahwa kita bisa menyelesaikan masalah perbedaan yang muncul. Pada akhirnya, dua budaya akan berada pada diri kita dan bisa saling bersinergi. Lebih baik lagi, kita sepatutnya bisa memilah manakah budaya yang baik untuk diri kita dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam atau mengandung syubhat. Namun, adakalanya seseorang terlalu memuja atau silau dengan peradaban yang menurut mereka baru sehingga melupakan identitas dirinya sebagai orang Islam dan Indonesia.
Agar tetap bisa menjaga identitas sebagai orang Islam dan Indonesia, siapkan diri kita dengan tujuan yang jelas, bekal ilmu agama dan teknis yang cukup sebelum berangkat. Ilmu-ilmu syar’I dan aqidah perlu dikuatkan betul-betul agar tidak jatuh kepada syubhat dan maksiat. Penulis ambil contoh di Jepang. Banyak sekali hal-hal syubhat terkait dengan aqidah di sana, misalnya, perayaan Tanabata dengan menggantungkan kertas bertuliskan mimpi dan harapan kita di pohon. Padahal, hal ini termasuk perbuatan syirik yang dilarang oleh Rasulullah [9]. Ilmu teknis tentang komposisi makanan yang halal dan haram pun juga diperlukan karena susah ditemukan kedai makan yang dikelola oleh orang muslim. Sedangkan di Eropa dan Amerika, akhlaq dan tata krama sebagai orang Islam dan Indonesia pun akan diuji. Pergaulan bebas dan pemikiran yang sangat liberal menjadi tantangan utama. Bahkan ketika datang ke negri muslim pun, ilmu agama dan teknis tetap harus dipersiapkan karena kita akan jauh dari orang yang menguatkan ketika lemah dan menegur ketika salah.
Saat tiba di lokasi, tindakan, teman dan lingkungan yang tepat harus dipilih baik-baik. Untuk menjaga iman dan akhlaq, carilah kawan-kawan dan komunitas yang sholih. Untuk memupuk keinginan kontribusi ke Indonesia, bagi pelajar, berkumpul dan diskusi dengan mahasiswa lain merupakan salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Tentunya dengan wawasan budaya, teknologi dan cara kerja yang baru membuka peluang-peluang solusi yang mungkin bagi Indonesia. Pergaulan dengan sesama pendatang dari berbagai negri pun bisa mengajari diri kita untuk lebih baik dalam membangun koneksi dan mentoleransi perbedaan. Tambahan catatan yang menarik adalah, ketika kita merantau ke luar negri, maka akan banyak pengetahuan dan wawasan yang terbuka, mulai dari pekerjaan yang gajinya berlipat-lipat dari pada di Indonesia, fasilitas dan jaminan hidup yang membuat nyaman, sampai tingkah laku warga setempat yang sesuai dengan rasa kita. Oleh karena itu, ingat kembali niat dan tujuan awal. Indonesia adalah kampung halaman kita, di sanalah keluarga kita berada dan banyak yang harus diperjuangkan. Jika pilihan jatuh untuk berkarya di luar negeri, maka jangan sampai melupakan Indonesia. Dan terakhir, sekeras apapun usaha kita jika tidak dikehendaki oleh Allah maka keinginan kita tidak akan terwujud atau terwujud tapi tiada barakah di dalamnya. Oleh karena itu, perbanyaklah doa dan kuatkan usaha.

Referensi
[1]   Hadits-hadits terkait di antaranya:
أَنَا بَرِيْ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيْمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِيْنَ
“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah-tengah kaum musyrikin”. [Hadits Riwayat Abu Dawud dalam Al-Jihad 2645, At-Tumudzi dalam As-Sair 1604, An-Nasa’i dalam Al-Qasamah 8/36]
لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْ مُشْرِكٍ أَشْرَكَ بَعْدَ مَـا أَسْلَمَ عَمَـلاً حَتَّى يُفَارِقَ الْمُشْرِكِيْنَ إِلَى الْمُسْلِمِيْنَ
“Allah tidak akan menerima amal dari seorang musyrik yang berbuat syirik setelah sebelumnya memeluk Islam sehingga ia memisahkan diri dari kaum musyrikin dan kembali kepada kaum muslimin”. [Hadits Riwayat An-Nasa’i dalam Az-Zakah 5/83, Ibnu Majah dalam Al-Hudud 2536, Ahmad 5/504]
[2]   Al Utsaimin, Muhammad bi Shalih. https://almanhaj.or.id/999-syarat-tinggal-di-negeri-kafir.html. Diakses pada 30 Juli 2017.
[3]   Fahrudin. https://www.kiblat.net/2015/08/13/tinggal-di-wilayah-mayoritas-kafir-bagaimana-ketentuannya. Diakses pada 30 Juli 2017.
[4]   hadits terkait
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
“Patuh dan taat pada pemimpin tetap ada selama bukan dalam maksiat. Jika diperintah dalam maksiat, maka tidak ada kepatuhan dan ketaatan.” (HR. Bukhari, no. 2955)
[5]   Tuasikal, Muhammad Abduh. https://rumaysho.com/13707-renungan-07-taat-pada-ulil-amri.html. Diakses 30 Juli 2017.
[6]   hadits-hadits terkait
عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)
[7]   hadits-hadits terkait
مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ الله فِي حَاجَتِهِ
“Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).
[9]   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ
“Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada tamimah (jimat), maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada kerang (untuk mencegah dari ‘ain, yaitu mata hasad atau iri, pen), maka Allah tidak akan memberikan kepadanya jaminan” (HR. Ahmad 4: 154. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan –dilihat dari jalur lain-).