Sabtu, 05 September 2015

Nulis-Nulis! ---Belajar Neliti di UTM (1) ----


Alhamdulillah, sudah setahun berlalu belajar di Malaysia, di Universiti Teknologi Malaysia, yang bisa dibilang sebagai ITB nya Malaysia.

Lain ladang lain belalang, lain kolam lain ikannya.

Masyarakat malaysia punya kultur yang khas yang tidak saya dapati di indonesia. Dari sekian perbedaan, salah satunya adalah kultur menulis paper di universitas. Lebih-lebih saya mengambil program dengan basis riset.

Walaupun dengan tantangan berupa harus hidup jauh dari istri yang baru dinikahi setahun. Dengan menahan rindu yang harus ditahan karena harus menjaga amanah beasiswa. Alhamdulillah, sudah berhasil membuat satu paper yang dibuat dengan susah payah setelah melakukan modelling yang telah dianalisis dan merupakan hasil baca berbulan-bulan, berpuluh-puluh paper.

Dari sependek pengalaman yang didapat, ada beberapa tips awal menulis yang saya dapatkan, diantaraya seperti di bawah ini.

  1. baca sebanyak-banyaknya tulisan yang relevan dengan topik riset, mulai dari yang general, buku, review paper, journal paper
  2. lalu brain storming dan dipilah mana yang paling relevan dari sekian bacaan tersebut.
  3. start menulis dengan membuat kerangka dengan menentukan urutan ide utama dari setiap paragraph. Pastikan kerangkanya funelling atau berbentuk corong, dari umum ke khusus. Saya sudah berbuat salah di awal, membuat tulisan bahasa inggris sebanyak 31 halaman, harus dirombak ulang karena ternyata belum funneling ( --)'
  4. pastikan penomoran revisinya bener. Tidak jarang saya menumpuk revisi lama dengan revisi baru ketika lupa memberi nomor revisi. Bahkan itu terjadi pada saat sidang akhir di s1 (kok bisa ya?). Pada saat buka slide presentasi, lho inikan versi yang sebelum terakhir. Karena kadung lupa dimana naruhnya, presentasi tetep lanjut.

Di lab saya s1-kalau ga lupa-, penomoran revisi punya standar, yaitu A1 untuk yang belum final dengan koreksian dari sendiri. Jika koreksian berasal dari supervisor (atau pembimbing) dan sudah mendapat persetujuan sebagai draft pertama maka revisinya berubah menjadi b. Jika final dan sudah siap dikumpulkan atau disubmit berubah menjadi rev 0. dan jika ada koreksi setelah sidang berubah menjadi rev 1, tapi, kadang cara tersebut bagai orang tertentu ribet. silahkan disimpelkan menurut caranya masing-masing.

Kebetulan, tugas akhir S1 dan thesis S2 saya adalah sama, yaitu  tentang pemodelan. Asumsi saya dulu pemodelan itu lebih valid kalau ada validasi dengan validasi secara ekperiment. Ternyata, tidak. Validasi model bisa dengan berbagai cara seperti point di bawah ini.

1. experiment kita sendiri,
Cara satu yang paling valid adalah dengan experiment. Jadi buat modelnya, lalu bandingkan dengan experiment yang kita punya. kelompokkan parameter yang fix, yang ada di data sheet di instrument atau design di experiment. dan juga kelompokkan parameter yang bisa dituning, misalnya parameter yang tidak diketahui,tidak bisa diukur, atau tidak tercantum di spesifikasi manufaktur. setelah itu tinggal validasi.

2. experiment orang lain,
Nah, ini yang memang baru saya tahu ketika master. Ternyata kita bisa memvalidasi dengan hasil eksperimen orang lain, terutama yang dimuat di dalam jurnal yang kredibel. Lalu bagaimana cara untuk mengutip. bisa dengan berbagai cara. Cara A adalah dengan mengirimkan surat copy right ke publisher. Ada beberapa publisher yang kita perlu membayarnya. ada juga beberapa  publisher yang gratis. Cukup dengan minta ijin saja. Nah, selanjutnya, cara b dengan meminta raw data ke researcher. Nah cara b ini, jika beruntung akan dapat reply dari author nya. Tapi, yang sering kali terjadi, kita ga dapat balasan apa pun dari penulisnya, atau bahkan ditanya 'apa yang ingin kamu lakukan dengan dataku' dan setelah dijawab tetep diam. Akhirnya, cara yang terakhir adalah dengan cara mengekstrak data secara manual dari gambar yang tersedia di sebuah paper. nah cara mengekstrak data ada beberapa cara,

  • dengan grabit, suatu program yang dibuat di matlab, sehingga kita bisa mengalibrasi axis x dan y dan membuat titik di sepanjang garis, lalu kita bisa menyimpan hasil ngedraft kita.
  •  grafik webtodigital, suatu program aplikasi yang bisa jalan di windows, dan yang lebih menyenangkan adalah program ini free ware, sehingga ya moga-moga barokah. Satu lagi, program bisa diset manual dan otomatis. Dengan sentuhan photoshop sedikit, kita bisa mengerjakan dengan mudah. Dia mempunyai tool seperti color selector dan itulah yang dibuat grafik. Tapi sayang, peralatan ini hanya bisa dibuat untuk yang berwarna saja. Untuk grafik yang tidak berwarna atau hanya hitam putih, ya siap2 untuk membuat titik satu per satu.
  • Datachief, suatu program aplikasi yang bisa jalan di berbagai platform operating system atau OS (Windows, Mac, Linux) karena bawaan java. Ya kurang lebih sama dengan grabit. Tapi, tidak lebih baik dari web to digital di atas.

3.  model yang lebih komprehensif dan teliti.
Ternyata kita bisa memvalidasi dengan model yang lebih lengkap dan lebih komplit dari pada model yang kita ajukan. Biasanya 1D model dibandingkan dengan 3D model, atau control oriented model dibandingkan dengan 3D model. Atau model yang linier dibandingkan dengan model non linier.

4. menggunakan pembuktian yang sudah dilakukan oleh orang lain, misalnya model non linier untuk membuktikan bahwa sistemnya stabil bisa dengan menggunakan uji lyapunov.

Hmm, kelihatannya catatan lain akan disusulkan,
tapi entah kapan...

hehehe

(Bersambung)


Sabtu, 28 Februari 2015

Jin ada tidak?

Menemukan suatu tulisan menarik, bahwa jin itu ada?

Wallahu A'lam,

Berikut artikel yang bisa dijadikan salah satu rujukan dalil mengenai ada atau tidaknya jin. Dan banyak dalil-dalil yang menurut saya kuat.

 ====

Sungguh aneh, seseorang yang belum pernah belajar bahasa Arab atau bahkan tidak mengenal bahasa Arab, tiba-tiba saja pandai berbicara dengan bahasa Arab. Dan tidak jauh berbeda, seorang yang berdomisili di Jawa Barat dan kurang begitu paham dengan bahasa Jawa, tiba-tiba dengan lembut berbicara bahasa Jawa Krama Inggil dengan begitu fasihnya. Demikianlah salah satu fenomena yang pernah kita jumpai di masyarakat kita. Mengapa hal itu bisa terjadi? Dan ada apa dibalik semua itu?

Akankah kita menganggap bahwa hal itu hanyalah halusinasi semata karena pikiran orang tersebut sedang kosong, sehingga hal tersebut tidak perlu dihiraukan? Dengan kata lain, sebagian orang menganggap bahwa ini adalah salah satu gejala psikologis. Ataukah kita menganggap bahwa dia kerasukan setan sehingga harus dibawa ke dukun, orang pintar atau semacamnya agar dibebaskan dari belenggu setan? Na’udzubillahi min dzalik. Kita berlindung dari menjawab dengan kedua anggapan di atas, karena jika kita menganggap bahwa fenomena di atas hanyalah gejala psikologis semata yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan gangguan-gangguan spiritualitas seseorang, maka sungguh bisa jadi kita mendustakan keberadaan makhluk yang telah Allah ciptakan, yaitu jin. Padahal sudah sangat jelas adanya dalil tentang keberadaan makhluk ciptaan Allah yaitu jin, serta adanya dalil yang menunjukkan bahwasanya seseorang itu bisa kerasukan jin.

Allah Ta’ala berfirman di dalam surat Adz-Dzariyat ayat ke-56 yang artinya, “Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu”. Perhatikanlah bahwasanya di dalam ayat tersebut Allah menciptakan dua makhluk yang sama-sama ditugaskan untuk menyembahNya. Jin diciptakan berdampingan dengan kita, hanya saja Allah telah memisahkan alamnya dengan alam kita. Dan hanya Allah Dzat yang tahu akan perkara yang ghaib.”

Wahai orang-orang yang menganggap bahwasanya kesurupan jin adalah sesuatu yang mustahil ! Ketahuilah bahwa kebenaran adanya fenomena kesurupan jin bukanlah sekedar imajinasi, halusinasi, khurafat, tahayul atau apalah namanya. Namun hal itu adalah peristiwa nyata yang didukung oleh banyak dalil dari Al Qur’an, hadits, serta merupakan ijma’ ulama.

Allah Ta’ala berfirman,
“Orang-orang yang makan(mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Qs. Al-Baqarah: 275)

Dalam hadits diriwayatkan dDari Utsman bin Abi Ash radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menugaskanku untuk mengurursi kota Thaif, ada sesuatu yang mengganggu diriku dalam shalatku sehingga saya tidak sadar tatkala menjalankan shalat. Tatkala aku merasakan hal itu, maka aku pergi menemui Rasulullah.

Beliau bertanya,“Ibnu Abi Ash?!”

Jawabku, “Ya, wahai Rasulullah.”

Beliau bertanya lagi, “Apa yang mendorongmu kemari?”

Saya berkata, “Wahai Rasulullah, ada sesuatu yang mengganggu diriku dalam shalatku sehingga saya tidak sadar tatkala menjalankan shalat.”

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah setan, kemari mendekatlah kepadaku”. Akupun mendekati beliau sedangkan beliau duduk di hadapanku. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memukul dadaku dengan tangannya dan meludah ke mulutku seraya berkata,”Keluarlah wahai musuh Allah!” Beliau melakukan hal itu sebanya tiga kali kemudian bersabda, “Lanjutkan lagi tugasmu.” Utsman berkata, “Sungguh, setelah itu saya tidak merasakan sesuatu itu mengangguku lagi.”
(Sanad hadits ini shahih sebagaimana ditegaskan oleh Al-Busyairi dalam Misbah Zujajah (4/36-Sunan) dan Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah 6/1002/2. Bahkan ada jalur-jalur lainnya yang menambah kuat keabsahan hadits ini)

Oleh karena itu Syaikh Al-Albani rahimahullah berkomentar,” Dalam hadits ini terdapat dalil yang sangat jelas bahwa setan bisa merasuk ke badan manusia sekalipun dia orang yang beriman dan shalih. Banyak hadits yang mendukung adanya hal itu.” (Ash-Shahihah 6/1002/2)

Untuk dalil dari ijma’ ulama penulis bawakan perkataan dari Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, beliau berkata, “Al-Qur’an, sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kesepakatan umat telah menunjukkan bahwa jin bisa masuk pada jasad manusia. Lantas pantaskah bagi orang yang mengaku berilmu untuk mengingkarinya tanpa pijakan ilmu dan petunjuk. Laa haula wa laa quwwata illa billahi.”

Terdapat juga pendapat ahli kedokteran yang mengakui adanya fenomena kesurupan. Seorang pakar ilmu kedokteran sekaligus ilmu islam lainnya, Syaikhul Islam kedua, Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan, “Kesurupan itu ada dua macam: Kesurupan karena ruh-ruh jahat (baca: setan) dan kesurupan karena tercampurnya benda-benda yang kotor (penyakit kejang-kejang, ayan dan sejenisnya). Kesurupan jenis kedua inilah yang biasa dijadikan topik pembicaraan di kalangan ahli medis tentang faktor penyebab dan cara pengobatannya.”

Adapun kesurupan karena ruh-ruh (baca: jin), maka para pakar ilmuwan kedokteran tidak menolaknya, dan mereka mengakui bahwa cara pengobatannya yaitu dengan melawan ruh-ruh jelek dan keji tersebut dengan ruh-ruh yang baik dan suci sehingga melawan segala bentuk pengaruhnya dan mengusirnya.

Telah jelaslah wahai saudariku, bahwasanya fenomena seseorang kerasukan jin adalah benar adanya. Mengingkarinya adalah pendapat yang sungguh bathil. Karena sudah jelasnya dalil-dalil yang menunjukkan akan hal itu, yang pasti bisa diterima oleh akal sehat. Jadi yang perlu sangat diperhatikan, bahwasanya perihal mengimani/mempercayai adanya jin serta perbuatannya adalah termasuk permasalahan aqidah. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati di dalam berucap dan bertingkah menyikapi adanya fenomena orang yang kesurupan jin.

Tanda –tanda seorang kerasukan jin
Berikut ini ada beberapa tanda-tanda yang bisa dikenali dari seseorang yang kemasukan ruh jahat/ kesurupan

    Tanda dalam tidurnya
        Sulit tidur malam.
        Banyak bangun malam.
        Mimpi yang menakutkan.
        Melihat binatang dalam tidurnya seperti kucing, anjing.
        Giginya mengerat.
        Tertawa, mengigau, teriak dalam tidur.
        Mengaduh-aduh dalam tidur.
        Mimpi jatuh dari tempat yang tinggi.
        Mimpi dirinya di kuburan, tempat-tempat yang kotor atau jalan yang menakutkan.
        Mimpi melihat sesuatu dengan sifat-sifat aneh (tinggi sekali, hitam, menakutkan dll).
        Mimpi melihat bayang-bayang dirinya dalam tidurnya.
    Tanda saat sadar
        Pusing terus menerus, dengan catatan bukan pusing karena ada badan yang sakit.
        Berpaling dari berdzikir kepada Allah.
        Hilang akalnya.
        Lemah dan malas.
        Mengkerut salah satu syarafnya (selalu tegang).
        Merasa sakit pada salah satu anggota badan yang dokter tidak mampu mengungkap jenis penyakitnya.
        Sempoyongan saat berjalan dan bicaranya tidak jelas.

Terdapat juga cara lain yang bisa digunakan untuk mengenali orang yang kesurupan, yaitu dengan menyenteri bola mata pasien. Pada bola mata akan kita dapati garis-garis seperti jam. Apabila pada titik jam sebelas (pada jam sebelas) ada garis melintang menembus manik mata menuju angka lima (pada jam) itu berarti kesurupan, dan jika tidak ada berarti penyakit lain. Wallahu a’lam

Lalu wahai saudariku,, apa yang harus kita lakukan jika suatu saat hal itu menimpa salah satu kerabat kita, teman kita, bahkan bisa jadi kita sendiri. Akankah kita menyerahkan kepada pihak yang dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai “orang pinter” sehingga tercampurlah noda-noda kesyirikan dalam diri kita? Jawabannya tentu tidak. Na’udzubillahi min dzalik. Karena agama yang sempurna ini telah menjelaskan berbagai hal tentang cara mencegah maupun mengobati orang yang terkena penyakit tersebut. Sebagaimana dengan dzikir-dzikir yang telah Rasulullah ajarkan.

Oleh karena itu, hati-hatilah wahai saudariku janganlah kita sampai salah mengambil tindakan untuk menangani penyakit tersebut dengan cara-cara yang tidak disyari’atkan, karena saat ini ternyata sudah mulai bermunculan pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh “orang-orang pintar” yang katanya untuk membekali para guru di sekolah dalam menangani hal-hal semacam itu, dimana murid-murid di sekolah tersebut seringkali mengalami kesurupan.

Terapi untuk orang yang kesurupan itu ada dua cara:

    Tindakan preventif (pencegahan sebelum terjadi)
    Cara ini dapat ditempuh dengan berupaya menjaga dzikir dan doa pagi dan petang yang shahih, termasuk diantaranya seperti bacaan ayat kursi, sebab orang yang membacanya pada suatu malam, niscaya Allah akan selalu menjaganya dan setan tidak berani mendekatinya hingga datang waktu pagi. Demikian pula surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas serta doa/dzikir pagi dan petang sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah dalam hadits-haditsnya.
    Mengobati setelah terjadinya kesurupan
    Cara ini dapat ditempuh dengan ruqyah syar’iyah, yaitu membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, terutama yang berkaitan tentang ancaman, peringatan dan perlindungan kepada Allah dari syetan, sehingga jin itu keluar dari badan orang yang kesurupan dengan dibarengi keimanan dan tawakal yang mantap kepada Allah bagi orang yang meruqyah dan diruqyah.

Demikianlah wahai saudariku apa yang dapat penulis sampaikan. Semoga bermanfaat dan kita senantiasa dilindungi dari perbuatan-perbuatan syirik, yang dapat mengantarkan kita kekal di neraka. Wallahu Musta’an

Penulis: Ummu Afra Nana
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar

Maraji':
Do’a dan Wirid, Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al Qur’an dan As-Sunnah” oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzahullah. Penerbit Pustaka Imam Syafi’i, Bogor
Uyunul Anba fi Thabaqat Al-Athibba’ hal 3 oleh Ibnu Ab ‘Ushibah
Kesurupan Jin (Abu Ubaidah Al-Atsari), Majalah Al Furqon, edisi 10 Th III
Meruqyah Diri Sendiri Sesuai Syar’i. Tim Daar Ibnu Atsir.(Daar An Naba)

Sumber:
http://muslimah.or.id/aqidah/wahai-saudariku-imanilah-bahwa-jin-itu-ada.html

Makna tanpa baiat adalah jahiliyah

Assalamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Ust, ada saya baca hadits pada kalimat terakhir: barang siapa yang meninggal dunia tanpa pernah berbai’at, ia meninggal secara jahiliyah. (HR. Muslim). Apa makna hadits ini?

(Efendi – 085245014xxx)

Jawab:

Wa ‘Alaikum salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa ashhabihi wa man waalah, wa ba’d:

Pak Efendi yang dirahmati Allah …

Hadits tersebut, dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallalalhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16389)

Hadits ini menunjukkan kewajiban berbai’at jika telah ada imamatul ‘uzhma yakni khalifah bagi seluruh umat Islam, bukan amir sebuah jamaah yang umat Islam secara umum tidak mengenalnya.

Mati tidak berbai’at = Jahiliyah / Kafir?

Banyak manusia dan kelompok Islam teracuni pemikiran takfir (mudah mengkafirkan) gara-gara permasalahan ini. Hal ini terjadi karena penafsiran mereka yang keliru dan menyimpang terhadap makna hadits tersebut, dan tidak merujuk kepada penafsiran para Ahli, yakni para ulama, tapi merujuk tafsiran guru ngaji mereka dan bujuk rayuan yang membius, serta kepentingan jamaahnya.

Kita lihat, apa sih makna miitatan jahiliyah (mati dalam keadaan jahiliyah) dalam hadits tersebut. Apakah orang yang belum berbai’at lalu dia mati, matinya terhukum kafir dan jahiliyah. Sebagaimana sangkaan sebagian kelompok?

Saya akan kutip syarah (penjelasan) yang dilakukan beberapa imam terpercaya umat ini, di antaranya Al Imam An Nawawi dalam Syarah-nya atas Shahih Muslim, tentang makna miitatan jahiliyah berikut:

هِيَ بِكَسْرِ الْمِيم ، أَيْ : عَلَى صِفَة مَوْتهمْ مِنْ حَيْثُ هُمْ فَوْضَى لَا إِمَام لَهُمْ
“Dengan huruf ‘mim’ dikasrahkan (jadi bacanya miitatan bukan maitatan), artinya kematian mereka disifati sebagaimana mereka dahulu tidak memiliki imam (pada masa jahiliyah).” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Juz. 6, Hal. 322, Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sekarang penjelasan Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authar ,sebagai berikut:

وَالْمُرَادُ بِالْمِيتَةِ الْجَاهِلِيَّةِ وَهِيَ بِكَسْرِ الْمِيمِ أَنْ يَكُونَ حَالُهُ فِي الْمَوْتِ كَمَوْتِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ عَلَى ضَلَالٍ وَلَيْسَ لَهُ إمَامٌ مُطَاعٌ لِأَنَّهُمْ كَانُوا لَا يَعْرِفُونَ ذَلِكَ ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ أَنْ يَمُوتَ كَافِرًا بَلْ يَمُوتَ عَاصِيًا .
“Dan yang dimaksud dengan miitatan jahiliyah dengan huruf ‘mim’ yang dikasrahkan adalah dia mati dalam keadaan seperti matinya ahli jahiliyah yang tersesat di mana dia tidak memiliki imam yang ditaati karena mereka tidak mengenal hal itu, dan bukanlah yang dimaksud matinya kafir tetapi mati sebagai orang yang bermaksiat.” (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 7/171. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Saya kutipkan Fatwa Lajnah Da’imah (Komisi Tetap Fatwa) di Saudi Arabia, tentang makna hadits di atas:

ومعنى الحديث: أنه لا يجوز الخروج على الحاكم (ولي الأمر) إلا أن يرى منه كفرًا بواحًا، كما جاء ذلك في الحديث الصحيح، كما أنه يجب على الأمة أن يؤمروا عليهم أميرًا يرعى مصالحهم ويحفظ حقوقهم.
“Makna hadits tersebut: bahwa tidak boleh keluar dari kepemimpinan Al hakim (waliyul amri – pemimpin) kecuali jika dilihat dari pemimpin itu perilaku kufur yang jelas, sebagaimana diterangkan hal itu dalam hadits shahih, sebagaimana wajib pula bagi umat untuk mengangkat amir (pemimpin) bagi mereka supaya terjaga maslahat mereka dan hak-hak mereka.” (Al Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts wal Ifta’, No fatwa. 8225)

Maka, kematian orang yang tidak berbai’at kepada khalifah –jika dia ada- bermakna:

– Matinya seperti orang yang mati pada zaman jahiliyah

– Bukan dia-nya yang jahiliyah dan kafir

– Dihitung sebagai orang yang bermaksiat.

Para sahabat dan tabi’in ada yang tidak berbai’at

Ada pun tidak berbai’at kepada khalifah al ‘uzhma, telah terjadi pada masa-masa awal Islam. Imam Ath Thabari menceritakan, bahwa Ali Radhiallah ‘Anhu berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu: “Berbai’atlah Engkau!” Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku.” Mendengar itu Ali berkata: “Biarkanlah dia.”

Lalu Ali menemui Ibnu Umar dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at.” Jawab Ali: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar : “Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan.” Lalu Al Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali : “Akulah jaminannya, biarkan dia.” (Imam Ibnu Hazm, Al Fashl fil Milal wal Ahwa’ An Nihal, 4/103)

Imam Al Waqidi mencatat ada 7 orang kibarus shahabah yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali Radhiallahu ‘Anhu yaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid Radhiallahu ‘Anhum. (Tarikh Ar Rusul, 4/429)

Para sahabat ini, tidak ada satu pun manusia yang mengatakan mereka sebagai pemberontak, tidak pula dikatakan khawarij, apalagi kafir, walau mereka menolak berbai’at kepada khalifah. Kenyataan Ini menunjukkan kesalahan pihak atau kelompok yang mengkafirkan kaum muslimin yang tidak berbai’at kepada amir kelompok mereka.

Wallahu A’lam

sumber:
http://www.al-intima.com/syariah/mati-tanpa-baiat-mati-jahiliyah

Jumat, 30 Januari 2015

Az Zahra yang disematkan pada Fathimah Radhiyallahu 'anha Tidak Berdalil






Lalu sebenarnya bagaimanakah menyikapi lafadz Az Zahra ini ? 

maka kita katakan yang paling utama adalah menyebutnya dengan Fathimah binti Muhammad - dikarenakan seperti itulah yang disebutkan dalam sebuah isyarat dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dengan lafadz : " Fathimah adalah bagianku...." ( HR Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim )


(Copast dari status seorang teman di grup fb)


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Sebelum menjelaskan hakikat perkara ini, haruslah diketahui apa makna Az Zahra'

Didalam Shahih Al Imam Al Bukhari dan Imam Muslim terdapat sebuah hadits sebagai berikut - dan ini lafadz Imam Muslim :

حَدَّثَنِي ابْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ عَنْ خَالِدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَصِفُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ رَبْعَةً مِنْ الْقَوْمِ لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ أَزْهَرَ اللَّوْنِ لَيْسَ بِأَبْيَضَ أَمْهَقَ وَلَا آدَمَ لَيْسَ بِجَعْدٍ قَطَطٍ وَلَا سَبْطٍ رَجِلٍ أُنْزِلَ عَلَيْهِ وَهُوَ ابْنُ أَرْبَعِينَ فَلَبِثَ بِمَكَّةَ عَشْرَ سِنِينَ يُنْزَلُ عَلَيْهِ وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ وَقُبِضَ وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعَرَةً بَيْضَاءَ قَالَ رَبِيعَةُ فَرَأَيْتُ شَعَرًا مِنْ شَعَرِهِ فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنْ الطِّيبِ  

Telah bercerita kepadaku Ibnu Bukair berkata : telah bercerita kepadaku Al Laits dari Khalid dari Sa'id bin Abu Hilal dari Rabi'ah bin Abu 'Abdur Rahman berkata : aku mendengar Anas bin Malik radhiallahu 'anhu sedang menceritakan sifat-sifat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, katanya : "Beliau adalah seorang laki-laki dari suatu kaum yang tidak tinggi dan juga tidak pendek. Kulitnya terang tidak terlalu putih dan tidak pula terlalu kecoklatan. Rambut beliau tidak terlalu keriting dan tidak lurus. Kepada beliau diturunkan wahyu saat usia beliau empat puluh tahun lalu menetap di Makkah selama sepuluh tahun kemudian diberikan wahyu lagi dan menetap di Madinah selama sepuluh tahun lalu beliau meninggal dunia, dan ada rambut yang beruban pada kepala dan jenggot beliau dengan tidak lebih dari dua puluh helai". Rabi'ah berkata : "Aku pernah melihat sehelai rambut dari rambut kepala beliau berwarna merah lalu kutanyakan. Maka dijawab : "Warna merah itu berasal dari minyak rambut."

Didalam hadits tersebut terdapat lafadz أَزْهَرَ dan lafadz ini adalah untuk mudzakar, sedangkan untuk muanas adalah زهراء , sehingga berdasarkan hal ini diketahui bahwa Az Zahra maknanya adalah suatu warna antara putih dan kecoklatan, sebagaimana hal ini dapat antum lihat dalam berbagai macam Kamus...

Mensifati Az Zahra sebagai ghuluw-nya kaum Rafidhah terhadap Fathimah adalah sesuatu yang perlu mendapatkan catatan, dikarenakan ulama ahlussunnah telah menyebutkan dalam kitab - kitab mereka lafadz ini bagi Fathimah, perhatikan beberapa nukilan dibawah ini :

1. Imam Ibnu Hibban Al Busti rahimahullah yang wafat tahun 354 H beliau berkata dalam Shahih Ibnu Hibban 15/401 :
 ذكر فاطمة الزهراء ابنة المصطفى ورضي عنها

 " Penyebutan tentang Fathimah Az Zahra anak Al Musthafa radhiallahu anha."

2. Imam Al Ajury rahimahullah yang wafat tahun 360 H, beliau berkata dalam Asy Syari'ah 4/288 : 

 اعلموا رحمنا الله وإياكم : أن الحسن والحسين رضي الله عنهما خطرهما عظيم ، وقدرهما جليل ، وفضلهما كبير ، أشبه الناس برسول الله صلى الله عليه وسلم خلقا وخلقا الحسن والحسين رضي الله عنهما ، هما ذريته الطيبة الطاهرة المباركة ، وبضعتان منه ، أمهما فاطمة الزهراء

Ketahuilah semoga Allah merahmatiku dan kalian, sesungguhnya Al Hassan dan Al Husain radhiallahu anhuma memiliki kedudukan yang agung, keutamaan yang besar, dan paling mirip dengan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam secara akhlaq maupun rupa Al Hassan dan Al Husein radhiallahu anhuma, keduanya merupakan anak seorang wanita yang baik lagi suci dan penuh barakah, ibunya adalah Fathimah Az Zahra..."

Catatan : Dan Al Imam Al Ajury beberapa kali didalam kitab tersebut menyebutkan Fathimah dengan Az Zahra...

3. Al Imam Al Qurthubi rahimahullah yang wafat tahun 671 H, beliau berkata - ketika menyebutkan anak - anak Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, dalam Tafsir beliau 14/241 :

 وأما الاناث من أولاده فمنهن: فاطمة الزهراء  

" Adapun anak perempuan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam diantaranya adalah Fathimah Az Zahra."

4. Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah yang wafat tahun 856 H berkata dalam Tahdzibut Tahdzib no 2815 :

 أبي داود والترمذي وابن ماجة سلمى أم رافع مولاة النبي صلى الله عليه و سلم ويقال مولاة صفية بنت عبد المطلب وهي زوجة أبي رافع روت عن النبي صلى الله عليه و سلم وعن فاطمة الزهراء

Abu Daud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah - Salma Ummu Rafi, maula Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, dikatakan juga maula Shafiyyah binti Abdul Muthalib - dan dia ( Ummu Rafi' ) adalah istri Abu Rafi' yang meriwayatkan dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Fathimah Az Zahra..."

Contoh dalam masalah ini banyak...

Lalu sebenarnya bagaimanakah menyikapi lafadz Az Zahra ini ? maka kita katakan yang paling utama adalah menyebutnya dengan Fathimah binti Muhammad - dikarenakan seperti itulah yang disebutkan dalam sebuah isyarat dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dengan lafadz : " Fathimah adalah bagianku...." ( HR Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim )

Dan ada sebuah khurafat khayalan yang disebutkan oleh Al Imam Al Munawi rahimahullah dari Syiah mengapa Fathimah disebut dengan Az Zahra, dan tidak disini pembahasannya.

===
Catatan : Saya tidak menjumpai sebelum Al Imam Ibnu Hibban rahimahullah seorang ulama yang menyebutkan Fathimah dengan Az Zahra,



kalau menurut terminologi orang suka mbagi fase mutaqaddimiin dan mutaakhkhriin dalam ilmu hadits, maka Ibnu Hibbaan itu termasuk mutaqaddimiin. Seangkatan dengan Ad-Daaraquthniy. Ia murid Ibnu Khuzaimah.
Kalau kita lihat referensi Syi'ah, maka ada penggunaan dan pemutlakan istilah Az-Zahraa' ini. Apa yang antum sebut itu adalah makna secara lughawiy saja. Akan tetapi istilah Az-Zahraa' yang kemudian dinisbatkan kepada Faathimah bintu Rasulillah shallallaahu 'alaihi wa sallam itu, menurut Syi'ah, artinya : "Cahaya". Sehingga jika dikatakan Faathimah Az-Zahraa', itu karena cahayanya mekar (زهر) di penjuru langit. Ya, kurang lebih demikian menurut orang Syi'ah.
Inilah yang termasuk ghulluw-nya orang Syi'ah Raafidlah kepada Faathimah radliyallaahu 'anhaa.
Anyway,.... menurut saya, kita tidak perlu latah dengan mengucapkan Az-Zahraa' kepada Faathimah, karena tidak ada dalilnya. Jika kita ucapkan : 'alaihas-salaam atau radliyallaahu 'anhaa - maka itulah yang mencocoki nash.

Minggu, 21 Desember 2014

Prestasi yang Melenakan


Mungkin di antara kita pernah meraih prestasi, atau bahkan mengoleksi prestasi. Begitu banyak prestasi sehingga kita tidak lagi berjalan di atas bumi dengan perasaan hauna seperti tertulis di dalam Al-Furqon, "'ibadur rahmanulladzina yamsyuna 'alal ardhi hauna."

Terkadang, prestasi itu yang membuat kita semakin jauh dari Allah, bukan malah mendekatkan pada Allah. Alih-alih meluruskan niat untuk Allah ta'ala, tetapi malah meluruskan niat untuk mencari ketenaran, mencari pujian, pekiwuh, kekuasaan, harta atau malah wanita.

Lihatlah ke belakang
Lihatlah, bagaimana seorang 'Umar radhiyallahu 'anhu yang mengalahkan dua kerajaan adi daya, tetap menangis jika diingatkan tentang neraka. Bagaimana beliau tetap berkeliling Madinah di malam hari sekalipun beliau bisa menduduki singgasana seperti singgasana Kisra atau Kaisar Romawi.

Lihatlah bagaimana seorang Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu tetap rendah hati sekalipun kontribusi finansialnya sangat banyak di berbagai perang-perang di zaman Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam.

Kekaguman yang Salah
Terkadang kita juga mudah kagum kepada kekaguman yang salah. Kita terlalu mengagumi prestasi seorang yang melalui kontes kecantikan dimana banyak orang bisa menonton kecantikannya. Atau yang lebih umum, terkadang kita terlalu mudah menumpahkan kekaguman kita kepada suatu bentuk prestasi yang sebenarnya adalah hasil dari suatu proses maksiat.

Dan di saat yang lain, kita terlalu menganggap bahwa orang yang berprestasi pada suatu hal menjadi patokan segala hal, sehingga tanpa sadar kita mengesampingkan pertimbangan syar'i dan agama. Misalnya, bisa saja seseorang yang berhasil mendirikan suatu organisasi raksasa untuk menolong banyak orang atau anak-anak, tapi tanpa sadar kita selalu membetulkan pendapatnya dan menganggapnya punya ideologi yang benar, dan bisa jadi suatu saat nanti orang itu membawa pola pikir kita dan pola pikir orang-orang yang ditolongnya ke arah ideologi yang salah- misalnya sekuler.

Prestasi Boleh, Asalkan...
Berprestasi boleh, asalkan tidak ujub, tetap luruskan niat, dan jangan sampai lupakan Allah (ini yang paling penting). Jangan sampai gara-gara mengejar prestasi tersebut, kita melunturkan sensitifitas kita terhadap maksiat dan menumpulkan daya tahan dan juang untuk mengamalkan sunnah-sunnah-Nya. Hindarkan mengalahkan kepentingan kita terhadap kehidupan selanjutnya (akhirat), hanya untuk kehidupan dunia yang fana ini.

Dan yang juga sebagai poin tambahan, jadikan prestasi itu bukan untuk memicu kamu bermanfaat untuk diri kita sendiri saja, tapi juga untuk banyak orang, seperti Imam Muslim, Bukhori dan ulama' hadits yang membuat kitab hadits sehingga kita bisa ittiba' kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam.

Finally
Prestasi jangan sampai menjadikan kita lupa diri. Oleh karena itu, Jadikan prestasi menjadi sarana untuk mendekatkan diri pada Allah seperti yang telah dilakukan oleh para shahabat, tabi'in, dan ulama' salaf. Dan harus berhati-hati terhadap kekaguman yang melenakan.

Mari Berprestasi hanya karena-Nya, tanpa ketidakmurnian atau kesamaran niat.

:)

Kuala Lumpur 21 Desember 2014

Kamis, 20 November 2014

Mencuri info dari Pikiran Istri


[20:26, 20/11/2014] Nisa Asy Syifa: 
Target sy ketika anak2 berumur 3 thn mereka sdh dekat dng Al Qur'an (hafal surat2 pendek). 

Di umur 3 thnnya jg sy bercita2 anak2 hafal dan mengenal betul kisah perjuangan para sahabat, agar mereka mampu mengidolakan sjk kecil. 

[20:28, 20/11/2014] Nisa Asy Syifa: 
Yg jelas jgn sampai sprti ayah ibu nya dulu, yg ketika msh kecil mengidolakan power ranger dan sailor moon, apalagi sampai menyukai anime naruto 

[20:36, 20/11/2014] Nisa Asy Syifa: Di umur 1-2 thn kita latih ingatanya dng pola pendengaran. 

Umur 3 thn kita asah berbicaranya. 
Umur 4 thn kita asah komunikasinya. 
Umur 5 thn baru kita kenalkan calistung, membaca menulis berhitung. 
Krn umur 5 thn sdh pas, jika di bawah 5 thn masa keemasan mereka kita yg membangun, 
stlh 5 thn sedikit demi sedikit kita lepaskan mereka utk mulai berpikir mandiri

Rabu, 12 November 2014

Ambil Teropong Waktu, Bina Dirimu



Prestasi dan Karya tanpa kesadaran akan Izzah (kemuliaan Islam) akan gampang dimanfaatkan dan direbut oleh umat lain….
…Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir….(Al A’raaf 176)

Kenapa teropong waktu? Istilah ini saya pilih karena dengan mempelajari Sirah dan Tarikh, seakan-akan kita bisa melihat masa lalu dengan teropong tersebut. Dengan teropong waktu itu, kita dapat mengamati sejarah yang biasanya akan berulang dengan ibroh dan hikmah yang bisa diambil.

Apakah cukup dengan melihat? Tidak, ketika kita menjadikan sejarah hanya sebatas bacaan dan hafalan, Sirah dan Tarikh tidak akan berdampak apapun bagi diri kita. Dari sejarah, kita dapat menemukan berbagai hal. Pengambilan pelajaran (Ibroh) dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh kaum terdahulu sehingga pada zaman ini kita tidak membuat kesalahan yang sama. Pengambilan hikmah dari kelebihan-kelebihan yang dimiliki kaum-kaum terdahulu sehingga kita dapat memunculkannya kembali di waktu yang tepat.

Pembelajaran tentang sejarah, terutama Kisah Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam, dan Pembinaan Iman saling mendukung antara satu dengan lainnya. Salah satu wujud Iman kepada Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wa Sallam adalah dengan mengetahui sejarah perjalanan beliau ketika masa kerasulannya. Saat ini, lihatlah kemiskinan iman ini terjadi di mana-mana. Orang yang mengaku muslim tidak mengerti akan Sirah atau sejarah Nabi mereka. Perkataan orang yang mengaku Nabi adalah teladan mereka hanya berhenti sampai kerongkongan tidak sampai terefleksikan ke perbuatannya. Sementara itu, sejarah Islam yang dapat dijadikan sebagai sumber kebanggan Islam diabaikan dan berceceran di sana-sini.

Di sisi lain, budaya sekular berusaha menjauhkan orang Islam dengan Sejarah Islam. Di bangku-bangku sekolah, sejarah Islam sangat minim diajarkan. Kalaupun diajarkan, hanya berfokus pada konflik dan sekilas tentang kebudayaan Islam tanpa menunjukkan besarnya sejarah yang dimiliki oleh umat Islam. Jadi, murid-murid hanya mendalami Sejarah Islam tanpa pendekatan Iman.

Sekilas tentang pembinaan diri…
Dalam rangka pembinaan Iman, setiap muslim diharuskan membina dirinya masing. Yang dimaksud pembinaan diri di sini adalah seorang muslim yang memberikan kepada dirinya serangkaian pembinaan agar menjadi seorang muslim yang semakin paham akan agamanya, semakin bagus akhlaqnya, dan semakin spesialisasi di bidang keahliannya.

Pembinaan diri sendiri dapat berupa pembinaan di bidang ukhrowi (berorientasi pada akhirat, contoh ikut majlis taklim dan ibadah) ataupun duniawi. Saya kira kita sudah paham kenapa penting pembinaan perlu dilakukan pada bidang ukhrowi. Tapi kenapa pembinaan diri juga pada bidang duniawi? Untuk memperbaiki masalah umat, maka seorang muslim yang mempunyai spesialisasi tertentu dituntut untuk memberikan kontribusinya pada Islam.

Lalu apa peran ‘Teropong Waktu’ terhadap pembinaan diri kita? Jika kita hanya belajar tentang aqidah, ibadah, akhlaq, kita akan mendapatkan semangat untuk menegakkan aqidah pada diri kita dan orang lain, beribadah lebih banyak, dan berakhlaq dengan baik. Tapi, ada rantai yang hilang. Bagaimana ruh perjuangan atau ghirah untuk berdakwah dapat dikobarkan tanpa mengetahui bagaimana perjuangan Rasulullah di kala dakwah dikembangkan, ketika system masyarakat Islam diwujudkan, ketika krisis muncul, ketika menghadapi penghianatan?

Kisah Nabi pada waktu berdakwah dengan berbagai rintangan dan halangan di Makkah selalu menjadi spirit bagi para pendakwah ketika menghadapi berbagai rintangan di era modern ini. Kisah Nabi pada waktu melakukan fathu Makkah menjadi pelajaran berharga bahwa balas dendam tidaklah terdapat di jalan dakwah. Peristiwa Perang Badar dan Perang Khandaq menjadi penyemangat bahwa Allah pasti selalu bersama para hamba Nya dan akan memberikan pertolongan pada waktu yang tepat. Dan masih banyak lagi kisah Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi sumber inspirasi para pelaku dakwah saat ini.

Sirah memang penting, kalau sejarah yang lain? Kisah sejarah Islam yang lain bukan prioritas utama. Tetapi, bagi yang mengaku mau berkontribusi dalam peradaban Islam lebih baik mempunyai pengetahuan tentang para pendahulunya di berbagai zaman. Dengan demikian, langkah para pembelajar ini akan semakin mantap dan sadar bahwa dibandingkan umat terdahulu, umat Islam sekarang masih tertinggal jauh.

‘Teropong Waktu’ sebagai sarana pembinaan diri diharapkan mempunyai output sebagai berikut:
1.      Muslim yang lebih beriman dan berakhlaq
2.      Penunjang kemunculan rasa kebanggaan akan Islam.
3.      Dia akan lebih bisa menentukan Visi untuk masa depan dirinya
4.      Kesadaran bahwa dirinya belum apa-apa dibanding perjuangan para tokoh jaman dahulu.

Dengan mendapatkan pengetahuan tentang sirah, seorang muslim baru mendapatkan pemahaman dan kesadaran. Yang lebih penting dari pemahaman adalah action atau perbuatan apa yang muncul setelah mempunyai kesadaran tersebut.

Bagaimana cara Si ‘Teropong Waktu” bisa membantu pembinaan diri kita?

Bagaimana cara agar si teropong waktu dapat menjadi sarana pembinaan diri yg tepat bagi kita?
1.      Agendakan
Salah satu penyakit yang ada pada manusia adalah panjang angan. Salah satu ciri dari sifat panjang angan adalah menunda-nunda kebaikan. Karena masih ada hari esok, dia menunda ibadah yang akan dilakukan. Di sisi lain, manusia pada umumnya mempunyai kesibukan masing-masing sesuai dengan hobinya dan kewajibannya. Maka jawaban yg paling pas untuk mengatasi masalah ini adalah mengagendakan waktu dan tempat yg khusus untuk menghayati sirah dan tarikh.
2.      Pemilihan sarana yang tepat
Memilih sarana yang tepat untuk mempelajari sirah dan tarikh dalam hidup kita. Dalam pemilihan sarana yang harus diperhatikan adalah sumbernya agar dapat ilmu yang shahih, waktunya agar dapat pembelajaran maksimal, tempatnya agar terkondisikan dengan baik.

Bentuk sarananya dapat berupa buku, rekaman, ataupun video. Salah satu yang paling popular dan mudah dilacak sumbernya adalah buku. Di antara prioritas buku yang perlu di baca adalah sebagai berikut:
a.       Sirah Nabawiyah
                                                              i.      Fiqhus Sirah
                                                            ii.      Sirah Nabawiyah
b.      Kisah Khilafaur Rasyidin
c.       Kisah-kisah sahabat, sahabiyah, dan para tabiin.
d.      Kisah Bani Umayah, Andalusia, Bani Abbasiyah, Turki Utsmani
e.       Sejarah-Sejarah Penyebaran Islam di berbagai penjuru, China,India, Andalusia, Indonesia
f.       Sejarah Islam Di Indonesia
g.      Sejarah-Sejarah Islam kontemporer di Berbagai belahan dunia
Sirah Nabawiyah terdapat di urutan pertama karena sirah nabawiyah menjadi bagian dari keimanan kita kepada Rasulullah (seperti yang telah dituliskan di awal tulisan). Sirah Nabawiyah memaparkan tentang perjalanan Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam dari kecil sampai beliau meninggal. Buku sirah yang termasuk awal mula ditulis adalah Sirah Ibnu Hisyam dan Al Bidayah Wan Nihayah oleh Ibnu Katsir. Buku sirah yang ditulis pada zaman ini adalah Sirah Nabawiyah Syeikh Al Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah Al Buti, Sirah Nabawiyah Haikal dan masih banyak lagi. Buku Fiqhush Sirah adalah buku yang berusaha menganalisis perjalanan Rasulullah dan bagaimana pengaplikasiannya di zaman sekarang. Salah satu buku sirah yang ditulis di jaman ini adalah Manhaj Haroki.

Yang tidak kalah penting dengan sirah adalah para sahabat Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Sirah shahabat perlu dibaca, karena inilah contoh generasi yang berhasil menjadikan Khatimul Anbiya' sebagai qudwahnya. Kita juga dapat lihat perjuangan dan perjalanan para shahabat untuk mendapatkan ridho Allah atau hidayah Allah. Aplikasi perbuatan yang dilakukan oleh para sahabat akan lebih membumi dengan kita karena sama-sama dalam posisi menuntut ilmu dari Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam Para Shahabat juga mempunyai berbagai karakter dan keunikan masing-masing yang tidak saling melemahkan tapi saling menguatkan dakwah di bawah bendera Rasulullah.

Mencoba Menempatkan diri di dalam peradaban
Dengan kesadaran bahwa sejarah dibentuk dari titik-titik kecil orang yang berhimpun membentuk peradaban, seorang muslim hendaknya berusaha memposisikan diri  di dalam peradaban. Mari tentukan di bidang mana kita berkontribusi dan sungguh-sungguhlah di sana, jadilah yang terbaik di sana dan berkontribusilah pada umat. Mari menjadikan sirah sebagai sarana pembinaan diri! Bismillah.